Showing posts with label Sufi. Show all posts
Showing posts with label Sufi. Show all posts

Monday, September 30, 2013

Menjaga Amanah

Ibrahim bin Adham pernah menjadi penjaga kebun milik orang kaya. Dia menjaga kebun tersebut dengan terus memperbanyak shalat. Satu hari, pemilik kebun meminta dipetikkan buah delima. Ibrahim mengambil dan memberinya. Tapi pemilik kebun malah memarahinya. Ia tersinggung karena diberikan buah delima yang asam rasanya. ''Apa kau tak bisa membedakan buah delima yang manis dan asam?'' Ibrahim menjawab,''Aku belum pernah merasakannya.'' Pemilik kebun menuduh Ibrahim berdusta. Ibrahim lantas shalat di kebun itu. Pemilik kebun menuduhnya berbuat riya dengan shalatnya. ''Aku belum pernah melihat orang yang lebih riya dibanding engkau.'' Ibrahim menjawab,'' Betul tuanku, ini baru dosaku yang terlihat. Yang tidak, jauh lebih banyak lagi.'' Di hari lain, majikan kembali meminta buah delima. Kali ini Ibrahim memberi yang terbaik menurut pengetahuannya. Tapi lagi-lagi pemilik kebun kecewa karena buah yang dia terima asam rasanya. Diapun memecat Ibrahim. Sufi besar itupun pergilah. Di perjalanan, ia menjumpai seorang pria yang sekarat karena kelaparan. Ibrahim memberinya buah delima yang tadi ditolak majikannya. Ibrahim lantas berjumpa lagi dengan pemilik kebun yang berniat membayar upahnya. Ibrahim berkata agar dipotong dengan buah delima yang ia berikan kepada orang sekarat yang ia jumpai. ''Apa engkau tak mencuri selain itu,'' tanya pemilik kebun. ''Demi Allah, jika orang itu tidak sekarat, aku akan mengembalikan buah delimamu.'' Setelah upahnya dibayar Ibrahim pun pergi. Pemilik kebun, setahun kemudian, mendapat tukang baru. Dia kembali meminta buah delima. Tukang baru itu memberinya yang paling harum dan manis. Pemilik kebun itu bercerita bahwa ia pernah meiliki tukang kebun yang paling dusta karena mengaku tak pernah mencicipi delima, memberi buah delima kepada orang yang kelaparan, minta dipotong upahnya untuk buah delima yang ia berikan kepada orang kelaparan itu. ''Dia juga selalu shalat. Betapa dustanya dia,'' kata pemilik kebun. Tukang kebun yang baru lantas berujar.''Demi Allah, wahai majikanku. Akulah orang yang kelaparan itu. Dan tukang kebun yang engkau ceritakan itu dulunya seorang raja yang lantas meninggalkan singgahsananya karena zuhud.'' Pemilik kebun lantas mengambil debu dan menaburnya di atas kepalanya sembari menyesali,''Celaka, aku telah menyia-nyiakan kekayaan yang tak pernah aku temui.'' sumber : unknown Read More...

Menjaga Amanah

Ibrahim bin Adham pernah menjadi penjaga kebun milik orang kaya. Dia menjaga kebun tersebut dengan terus memperbanyak shalat. Satu hari, pemilik kebun meminta dipetikkan buah delima. Ibrahim mengambil dan memberinya. Tapi pemilik kebun malah memarahinya. Ia tersinggung karena diberikan buah delima yang asam rasanya. ''Apa kau tak bisa membedakan buah delima yang manis dan asam?'' Ibrahim menjawab,''Aku belum pernah merasakannya.'' Pemilik kebun menuduh Ibrahim berdusta. Ibrahim lantas shalat di kebun itu. Pemilik kebun menuduhnya berbuat riya dengan shalatnya. ''Aku belum pernah melihat orang yang lebih riya dibanding engkau.'' Ibrahim menjawab,'' Betul tuanku, ini baru dosaku yang terlihat. Yang tidak, jauh lebih banyak lagi.'' Di hari lain, majikan kembali meminta buah delima. Kali ini Ibrahim memberi yang terbaik menurut pengetahuannya. Tapi lagi-lagi pemilik kebun kecewa karena buah yang dia terima asam rasanya. Diapun memecat Ibrahim. Sufi besar itupun pergilah. Di perjalanan, ia menjumpai seorang pria yang sekarat karena kelaparan. Ibrahim memberinya buah delima yang tadi ditolak majikannya. Ibrahim lantas berjumpa lagi dengan pemilik kebun yang berniat membayar upahnya. Ibrahim berkata agar dipotong dengan buah delima yang ia berikan kepada orang sekarat yang ia jumpai. ''Apa engkau tak mencuri selain itu,'' tanya pemilik kebun. ''Demi Allah, jika orang itu tidak sekarat, aku akan mengembalikan buah delimamu.'' Setelah upahnya dibayar Ibrahim pun pergi. Pemilik kebun, setahun kemudian, mendapat tukang baru. Dia kembali meminta buah delima. Tukang baru itu memberinya yang paling harum dan manis. Pemilik kebun itu bercerita bahwa ia pernah meiliki tukang kebun yang paling dusta karena mengaku tak pernah mencicipi delima, memberi buah delima kepada orang yang kelaparan, minta dipotong upahnya untuk buah delima yang ia berikan kepada orang kelaparan itu. ''Dia juga selalu shalat. Betapa dustanya dia,'' kata pemilik kebun. Tukang kebun yang baru lantas berujar.''Demi Allah, wahai majikanku. Akulah orang yang kelaparan itu. Dan tukang kebun yang engkau ceritakan itu dulunya seorang raja yang lantas meninggalkan singgahsananya karena zuhud.'' Pemilik kebun lantas mengambil debu dan menaburnya di atas kepalanya sembari menyesali,''Celaka, aku telah menyia-nyiakan kekayaan yang tak pernah aku temui.'' sumber : unknown Read More...

Monday, August 17, 2009

Pencuri

Seorang pencuri memasuki rumah Nasrudin dan membawa hampir semua harta benda Mullah ke rumahnya sendiri. Nasrudin melihat semua kejadian itu dari jalanan. Beberapa menit setelah itu, Nasrudin mengambil selimut, dan mengikuti sang pencuri pulang dan kemudian berbaring, pura-pura tidur di rumah si pencuri itu.
"Siapa kamu, dan apa yang kau lakukan di sini?" tanya si pencuri.
"Lho, bukannya kita sedang pindah rumah?"

Mungkin Ada Jalan di Atas Sana
Beberapa anak bengal merencanakan untuk mencuri sandal Nasrudin. Mereka memanggil-manggil sang Mullah, dan menunjuk ke sebuah pohon: "Tak seorang pun dari kami yang bisa memanjat pohon itu."
"Ah, kamu tentu bisa. Akan kutunjukkan caranya," kata Nasrudin. Setelah mencopot sandalnya dan menyelipkannya di ikat pinggangnya, Nasrudin mulai memanjat pohon.
"Nasrudin," teriak anak-anak itu, "naik pohon tidak perlu pakai sandal."
Nasrudin, yang merasa harus membawa sandalnya, tanpa tahu alasannya, membalas teriakan mereka: "Ini persiapan kalau-kalau ada keadaan darurat. Siapa tahu, aku menemukan sebuah jalan di atas sana." Read More...

Mengajar Keledai Membaca

Seseorang memberikan hadiah seekor keledai kepada sang amir. Orang-orang yang hadir ketika itu mulai memuji-muji binatang itu. Akhirnya seseorang berkata: "Aku malah dapat mengajar keledai ini membaca buku."

Sang amir pun menjadi murka dan berkata, "Kamu harus dapat membuktikannya. Bawa keledai ini dan ajarilah ia membaca dalam waktu satu bulan. Jika tak berhasil, akan kupenggal kepalamu. Jika berhasil, akan kuberi hadiah kamu sepuluh keping emas."
Si lelaki itu lalu membawa keledai itu pulang. Setelah beberapa hari mengembara dia berjumpa dengan seorang sufi di jalan dan menceritakan ancaman berat sang amir.
Sang sufi berkata: "Ambillah sebuah kitab yang besar, seperti kitab filsafat, dan letakkan jerami di antara lembar-lembar halaman kitab itu. Buatlah supaya keledai itu lapar selama sehari, lalu bukalah kitab itu di depan binatang itu, dan bukalah lembar demi lembar halaman kitab itu begitu keledai itu makan jerami dari tiap-tiap halaman.

Pada akhir bulan, sebelum bertemu dengan sang amir, buatlah binatang itu tetap lapar lagi. Pada hari yang telah ditentukan, bawalah keledai itu kepada amir bersama-sama dengan kitab itu, tetapi kali ini jangan letakkan jerami di antara halaman-halaman kitab itu."

Orang itu melakukan apa yang dinasihatkan oleh sang sufi dan meyakinkan sang amir bahwa dia telah mengajari keledai itu bukan saja membaca, tetapi juga membaca filsafat. Read More...

Terbawa Arus Publik

Mullah Nasruddin bersama putranya melakukan suatu perjalanan. Mullah lebih suka menyuruh anaknya menunggang keledai dan dia berjalan kaki. Di tengah perjalanan mereka mendengar beberapa orang berkata: "Lihat anak yang bahagia itu! Itulah pemuda masa kini. Mereka tidak hormat kepada para orang tua. Dia menunggang keledai, sementara ayahnya menderita jalan kaki."

Ketika mereka berpapasan dengan orang-orang itu, anak Mullah merasa malu sekali dan bersikeras ingin jalan kaki sedangkan ayahnya diminta naik keledai. Maka Hodja pun naik keledai dan anaknya berjalan di sampingnya. Tidak lama kemudian mereka sampai pada beberapa orang lainnya yang mengatakan:
"Lihatlah itu! Kasihan anak itu harus jalan kaki sementara bapaknya naik keledai."

Setelah berpapasan dengan orang-orang itu, Hodja berkata pada anaknya:
"Anakku! Yang paling baik kita lakukan adalah kita jalan kaki sama-sama. Dengan demikian tidak akan ada seorang pun yang bisa mengeluhkan kita."
Maka mereka pun meneruskan perjalanannya dengan jalan kaki. Di jalan yang menurun mereka bertemu dengan beberapa orang yang menertawakannya.

"Lihatlah mereka yang tolol itu. Keduanya berjalan kaki di bawah terik matahari dan tiada seorang pun dari mereka yang menunggang keledai!"
Hodja berkata kembali kepada anaknya: "Itulah, baru kelihatan betapa susahnya lari dari pendapat orang-orang." [dari parodi sufi] Read More...

Mengukur Panjang Dunia

Seorang teman Mullah bertanya padanya: "Mulla, berapa meterkah panjang dunia ini?"
Pada saat yang sama orang-orang mengusung petimati berisi jenazah ke kuburan.
Mullah menunjuk petimati itu dan berkata, "Tanya dia! Lihat, dia telah mengukurnya, menghitung, dan sekarang dia pergi!" Read More...

Petimati Datang

Pada suatu hari, seorang penduduk Akshehir meninggal. Istrinya menangis, "Oh, suamiku, ke manakah engkau akan pergi? Di sana gelap, tidak ada makanan, tidak ada apa-apa!"
Ketika Mullah Nasruddin mendengarnya, dia lari pulang dan berkata kepada istrinya, "Istriku! Buka pintu, petimati datang ke rumah kita." Read More...

Nasruddin di Liang Lahat

Nasruddin di Liang Lahat
Pada suatu malam, Nasruddin sedang jalan-jalan di sepanjang tempat yang sepi. Ketika dihadang oleh sepasukan kuda yang mendekatinya dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba imajinasinya mulai bekerja. Dia melihat dirinya terluka atau terampas atau terbunuh. Ditakuti pemikiran demikian dia meloncat, menaiki sebuah dinding, buru-buru masuk kuburan dan berbaring di dalam liang lahat yang terbuka. Ia bersembunyi.

Teka-teki pada perilaku Mullah yang sial itu, membuat para penunggang kuda dan pelancong mengikutinya. Mereka menemukan dia berbaring, tegang, dan menggigil.

"Apa yang terjadi? Sedang apa Anda di dalam liang kubur itu? Kami lihat Anda lari terbirit-birit. Bolehkah kami menolong Anda? Kenapa Anda berada di dalam tempat ini?"

"Karena kalian banyak mengajukan pertanyaan yang tidak perlu, maka di sana ada sebuah jawaban yang jujur," kata Nasruddin, yang kini bebas dari apa yang telah terjadi. "Semuanya tergantung pada sudut pandang kalian. Jika kalian ingin tahu sebabnya, sudah tentu aku di sini, sebab Anda ada di sini karena aku!" Read More...

Si Bakhil dan Pot yang Beranak

Suatu hari Mullah Nasruddin Effendi meminjam sebuah ceret dari orang kaya dan mengembalikannya jauh sebelum tanggal yang dijanjikan. Sudah tentu, Mullah membayarnya. "Terima kasih tuan, dan selamat!" kata Mullah kepada orang kaya itu.
"Kenapa Anda mengucapkan selamat kepadaku?" tanya orang kaya itu.
Mullah Nasruddin memindahkan pot kecil serupa ceret dari sakunya ke dalam ceret yang besar dan menyodorkannya kepada orang kaya itu, "Ceret besar Anda telah melahirkan bayi pot yang indah ini?"
"Rupanya dia gila, tetapi apakah aku harus menolak pot kecil ini," pikir orang kaya itu. "Oh! Lihat bagaimana bayi kecil ini mirip ibunya," seru orang kaya sambil mengambil pot kecil itu dengan hati-hati dan menyimpannya di dalam rumahnya.
Dua hari kemudian Mullah Nasruddin datang lagi meminjam ceret besar itu. Waktu itu Mullah tidak harus menunggu lama, dia menerima ceret besar itu secepat pembayarannya kepada orang kaya itu.
Hari berikutnya Mullah tergesa-gesa masuk rumah orang kaya itu dengan muka cemberut dan berkata, "Tuan, sungguh berita jelek!"
"Apa ada famili Anda yang meninggal?" tanya orang kaya.
"Pot Anda mati, Tuan!" tambah Mullah.
"Apa? Tidak mungkin! Bagaimana pot dapat mati?" teriak orang kaya.
"Memang sungguh aneh, Tuan! Apabila pot itu bisa hamil dan melahirkan pot kecil, namun kenapa Anda tidak menerimanya bahwa dia bisa juga mati?," tegas Mullah. Read More...

Surat ke Baghdad

Pada suatu hari seseorang menyuruh Mullah Nasruddin Effendi menulis surat untuknya, "Ke mana surat itu akan ditujukan?" tanya Mullah Effendi.
"Ke Baghdad," kata orang itu.
"Aku tidak bisa pergi ke Baghdad," Mullah menjelaskannya.
"Tetapi Anda tidak harus pergi ke sana," jawabnya.
Kemudian Mullah Nasruddin menerangkan, "Tidak ada seorang pun yang bisa membawa apa yang saya tulis. Jadi, saya harus pergi ke sana dan membacanya." Read More...

Rahasia

Nasrudin memanjat sebuah tembok dan dari sana ia melihat sebuah halaman yang dipenuhi rumput yang hijau dan lembut, bagaikan kain bludru yang amat halus. Ia memanggil tukang kebun yang sedang menyiram halaman penuh rumput itu.
"Apa rahasianya untuk bisa membuat halaman seperti itu?"

"Tidak ada rahasia," kata tukang kebun. "Sini, aku beri tahu asal engkau turun kemari."

"Asyiiik," ujar sang Mullah sambil meluncur turun. "Aku akan membuat halaman seperti itu."

"Caranya," kata si tukang kebun, "tanamlah rumput, bersihkan biji-bijian, dan sesering mungkin gunting rumput."

"Aku bisa melakukannya semua! Berapa lama waktu yang dibutuhkan?"
"Sekitar delapan ratus tahun."

"Rasanya, aku lebih suka melihat pemandangan dari jendelaku tanpa rerumputan," kata Nasrudin. ( humor sufi 3)
(0) Komentar
Di Istana Sultan Demak
Konon, Nasruddin pernah berkunjung ke Tanah Jawa. Itu terjadi ketika ia masih muda dan penuh jiwa petualangan. Ketika itu ia ikut sebuah kapal dagang yang berlayar ke Timur Jauh, dan dalam perjalanan pulang ke Turki, kapal itu kebetulan mampir di sebuah bandar di pesisir utara Jawa.

Pada zaman itu, kehebatan Sultan Demak sudah didengarnya, karena itu kesempatan tersebut dipergunakan sebaik-baiknya untuk berkenalan langsung dengan Sultan.

Nasruddin mendapat keterangan bahwa Sultan tidak berkeberatan menerimanya, sebab ia pun ingin berkenalan dengan pemuda Turki yang terkenal cerdas itu. Sebelum menghadap, Nasruddin mendapat keterangan terinci mengenai tata tertib keraton Jawa. Antara lain dikatakan oleh pegawai istana, "Nasruddin, kau harus selalu menyembah setiap kali berbicara dengan Sultan!" Lalu ia pun diajar bagaimana melakukan sembah.

Di depan Sultan, Nasruddin duduk bersila dengan tertib. "Kau yang bernama Nasruddin?" tanya Sultan.

"Benar, Yang Mulia," jawab Nasruddin sambil menyembah.

"Kau tinggal dimana?"

"Di Akshehir, Yang Mulia," jawabnya terus tetap menyembah tertib.

"Dekat Masjid Agung?" tanya Sultan.

Nasruddin ingin menunjukkan lokasi masjid di kotanya itu, tetapi ia ingat bahwa harus tetap menyembah kalau berbicara dengan Sultan; jadi ia menunjuk dengan kaki kanannya sambil berkata, "Masjid di sebelah sini, Yang Mulia."

"Dekat pasar?" tanya Sultan lagi.

"Pasar di sebelah sini, Yang Mulia," sambil berkata itu Nasruddin menunjuk dengan kaki kirinya, jadi sekarang kedua kakinya mekangkang.

"Dekat kelurahan?" tanya Sultan.

Nasruddin mulai bingung, ia harus menunjukkan tempat tetapi kedua tangannya untuk menyembah. Akhirnya tangannya yang kanan tetap nempel di hidung, yang sebelah kiri menunjuk, "Kelurahan di sebelah situ, Yang Mulia."

"Lantas, rumahmu sebelah mana?"
Tak ada lagi anggota badannya yang bisa dipakai untuk menunjukkan lokasi rumahnya. Akhirnya dikatakannya, "Rumah hamba di sebelah sana, Yang Mulia," dan sambil berkata itu ia meludah, tepat jatuh di hadapan Sultan. ( Humor Sufi Sapardi dd)
(0) Komentar
Menikahi Wanita Ideal
Seorang teman bercerita kepada Mullah, "Wanita yang akan saya nikahi kaya, cantik, gadis, berkelakuan baik, dan pandai."
Mullah menjawab, "Aku takut Anda tidak akan memperoleh semua kualitas tersebut pada satu istri, kecuali kalau Anda akan menikahi lima wanita!" Read More...

Tidak Untuk Dibawa

"Aku akan mengajarkan kepadamu perihal metafisik," kata Nasrudin kepada seorang tetangga yang tampaknya memiliki pemahaman yang mengagumkan, meskipun masih sedikit.

"Aku akan senang sekali," kata sang tetangga, "datanglah ke rumahku. Di sana, engkau bisa bicara panjang lebar padaku."

Nasrudin menyadari bahwa laki-laki itu berpikir, bahwa pengetahuan mistis dapat dipindahkan begitu saja melalui kata-kata yang keluar dari mulut. Nasrudin diam saja mendengar ajakan itu.

Beberapa hari kemudian, sang tetangga memanggil-manggil sang Mullah dari atas atap rumahnya. "Nasrudin, aku membutuhkan bantuanmu untuk meniup api di tungkuku, arangku tidak ada."

"Boleh," sahut Nasrudin. "Datanglah kemari. Kau boleh bawa sebanyak mungkin." Read More...

Terjebak Guci

Khurram, tokoh bodoh dari cerita Persia satu kali sedang duduk santai pada sore hari Sabtu yang hangat. Istrinya tiba-tiba menawarkan diri untuk membuatkan masakan istimewa kesukaannya. Makanan itu berupa roti dengan kacang-kacangan di tengahnya.

Mendengar tawaran menarik itu Khurram melonjak bangun dari duduknya. ''Ah, aku akan membantumu menyiangi kacang,'' katanya. Dia segera berlari ke dapur dan mengambil guci tempat menyimpan kacang. Dia masukkan tangannya tapi tak bisa mengeluarkannya. Tangannya terjepit leher guci yang sempit.

Ia berusaha keras mengeluarkan tangannya dari guci. Semakin keras ia menarik tangannya, makin sakit. Dan bukannya bebas, tangannya masih tetap terjepit. Ia mulai kesakitan dan berteriak memanggil istrinya. Tapi, istrinya pertolongan istrinya tak membantu.

Istrinya berteriak memanggil. Tetangga Khurram berdatangan. Mereka melihat tubuh Khurram basah oleh keringat dingin dan wajahnya memerah menahan sakit.
Salah seorang yang tak pernah dikenal menawarkan diri membantu. ''Kau harus menuruti kata-kataku. Tak boleh membantah sedikitpun.'' Karena merasa putus asa, Khurram yang semula enggan menerima saran orang lain bersedia. ''Asal tanganku bisa bebas dari leher guci ini, apapun kata-katamu akan aku ikuti.''

''Sekarang masukkan tanganmu lebih dalam ke guci.'' Khurram protes karena ia sedang ingin mengeluarkan tangannya dari guci dan bukan mendorongnya makin dalam. Namun, ia ikuti juga perintah pria tak dikenal itu.

''Sekarang buka genggamanmu,'' kata pria itu. ''Bagaimana dengan kacang yang aku ambil,'' kata Khurram.''Pokoknya lepaskan saja.'' Khurram menurut. Pria itu juga menyuruh Khurram mengecilkan genggaman tangan hingga semuanya bisa keluar.
''Sekarang bagaimana aku bisa mengeluarkan kacang,'' kata Khurram. Pria itu membalikkan guci dan keluarlah kacang yang diminta Khurram.
''Ah, hebat sekali. Apakah kau pesulap.'' tid
( )
(0) Komentar
Ada Cara Lain
Seseorang yang sudah mempelajari banyak ilmu metafisik di berbagai perguruan, datang kepada Nasrudin. Untuk menunjukkan ia murid yang baik, maka diungkapkan secara detail tempat-tempat di mana ia belajar, dan apa saja yang sudah ia pelajari.

"Saya harap, Mullah akan menerima saya, atau, paling tidak, menceritakan tentang ide-ide Mullah," katanya, "karena saya sudah begitu banyak menghabiskan waktu dalam mempelajari ilmu ini."

"Aku mengerti maksudmu," kata Nasrudin, "engkau telah mempelajari guru-guru dan ajaran mereka. Tapi mestinya guru-guru dan ajaran-ajaran itulah yang harus mengajarimu. Nah, dari sana, kita baru akan memperoleh sesuatu yang bermanfaat." Read More...

Guru dan Tukang Perahu

Seorang pemilik perahu satu kali mengajak gurunya pesiar ke laut Kaspia. Arya, nama pemuda itu dengan bangga menunjukkan perahu yang ia miliki kepada sang guru. Sang guru pun menikmati perjalannya dengan berbaring santai di bawah kanopi.

''Bagaimana cuara hari ini Arya,'' tanya sang guru. Arya melirik kompas dan penunjuk cuacanya. Dia juga mendongakkan kepalanya ke arah langit. ''Badai akan terjebak perahu kita guru.'' ''Coba ulangi, Badai akan datang dan kita terjebak. Begitu yang benar. Kau ini tak bisa tata bahasa ya,'' kata guru mengeritik.

Arya diam saja. Si guru terus mengoceh tentang tata bahasa sepanjang perjalanan. ''Bila kau tak menguasai tata bahasa dengan baik, kau akan tenggelam di kali,'' kata guru lagi.

Tiba-tiba langit gelap. Kilat dan gemuruh bersambutan. Ombak meninggi dan perahu mulai oleng. Arya bertanya kepada guru,'' Anda bisa berenang Pak Guru,'' katanya.
''Tidak. Aku tak pernah mempelajarinya.''

''Malang sekali. Inilah makna tenggelam yang sesungguhnya. Jika Pak guru tak pernah belajar dan tak bisa berenang, Pak guru akan tenggelam karena perahu kita mulai kemasukan air. Read More...

Pemberian

Seorang pria pergi ke rumah temannya untuk silaturahmi. Dia tinggal selama beberapa hari yang indah bersama rekannya. Ketika waktunya pulang, temannya memberi seekor kuda sebagai hadiah. Pria itu sangat gembira.

Sepuluh hari kemudian, pria itu mengembalikan kuda hadiah. ''Apa yang terjadi,'' kata temannya yang memberi kuda.

''Entah, saya berencana melakukan perjalanan ke berbagai kota. Tapi kuda ini hanya mau ke sini.''

''Oh, begitu. Kuda itu memang lahir dan besar di sini. Dia pasti sangat mengenali dan mencintai kampung ini dan segala sesuatu yang berada di rumahku. Aku paham. Tapi ingat, aku telah memberikannya kepadamu. Bawa ia ke mana engkau pergi.''

''Terimakasih, aku sungguh senang.''
Pria itu lantas menginap lagi beberapa hari untuk mempelajari lingkungan dan perilaku kuda hadiahnya itu. Merasa cukup belajar, ia pun pergi lagi.
Sepuluh hari, terulang lagi. Ia kembali ke rumah temannya membawa kuda. Temannya sekali lagi menyambut gembira dan mengizinkan ia menginap dan memberinya makan. ''Apa lagi ini'' kata temannya itu.

''Sama seperti dulu. Saya pergi ke beberapa kota dan menginap beberapa hari. Sampai di kota ke tiga, kuda ini mengamuk dan berlari lagi ke sini. Aku tak bisa melakukan apa-apa.''

Pemilik rumah memahami apa yang dibutuhkan pria temannya itu. ''Biar aku ajarkan kau mengendalikan kuda itu,'' katanya.
Selama satua bulan, pria itu belajar mengendalikan kuda. Setelah itu ia pergi dan tak kembali lagi.

saat melepas kepergian pria itu, istri pemilik kuda bertanya. ''Mengapa engkau lakukan semuanya. Engkau telah memberinya hadiah dan rela pula mengajari cara mengendalikan kuda itu. Bahkan ia menginap cukup lama di rumah kita.''

Pemilik kuda itu menjawab,'' Kamu dapat memberi hadiah. Tapi ada kemungkinan orang yang kamu beri hadiah tak tahu cara menggunakannya. Supaya benda itu berguna, kamu harus memberitahu cara memakainya. Itu tanggung jawab kita.''

Dengan cara yang sama, Tuhan memberi otak untuk berpikir. Tapi tak semua manusia tahu cara menggunakannya secara tepat. Karena itu Dia bertanggung jawab untuk mengirim utusan supaya kuda itu tak mengakibatkan bencana. tid/ berbagai sumber ( )
(0) Komentar
Khotbah di Masjid
Oleh masyarakat Nasruddin diberi tugas untuk menyampaikan khotbah di masjid setiap hari Jumat. Rupanya tugas itu selalu berat baginya dan ia senantiasa mencari akal agar tidak usah berkhotbah setiap Jumat.

Pada suatu hari Jumat ia mempunyai suatu gagasan yang bagus. Ketika ia tampil di mimbar dan akan menyampaikan khotbahnya, ia berkata dengan suara keras, "Saudara-saudara, apakah Saudara-saudara sudah mengetahui yang akan saya sampaikan dalam khotbah ini?"

Para jemaat itu tentu saja terkejut, menjawab, "Belum, kami belum tahu."
Dengan tenang Nasruddin berkata, "Wah, kalau Saudara belum tahu apa-apa mengenai hal yang begini penting, saya kira akan membuang-buang waktu saja bagi saya untuk berbicara mengenai itu." Sehabis berbicara itu Nasruddin turun dari mimbar dan tidak jadi memberi khotbah.
Hari Jumat berikutnya ia tampil lagi di mimbar dan menyodorkan pertanyaan yang sama seperti pekan sebelumnya.

"Apakah Saudara-saudara tahu mengenai hal yang akan saya bicarakan hari ini?"
Kali ini para jemaat berpikir dan mereka ingat apa yang terjadi seminggu sebelumnya, jadi secara serentak mereka menjawab, "Kami sudah tahu."
Nasruddin pun berkata kepada mereka. "Lha, kalau semua sudah tahu apa yang akan saya sampaikan, saya kira akan membuang-buang waktu saja kalau saya memberi khotbah di sini sekarang."
Dan seperti juga minggu yang sebelumnya, kemudian ia turun mimbar tanpa memberikan khotbah.

Pada hari Jumat ketiga, Nasruddin kembali lagi di mimbar dengan pertanyaan yang sama. "Apakah Saudara-saudara tahu apa yang akan saya sampaikan?"
Kali ini para jemaat agak bingung, ada yang menjawab "Ya" dan ada yang menjawab "Tidak".

"Baiklah," kata Nasruddin. "Beberapa di antara Saudara-saudara tahu apa yang akan saya sampaikan, yang lain tidak tahu, jadi lebih baik yang tidak tahu itu bertanya kepada yang tahu."
Sehabis berbicara itu ia pun turun dari mimbar tanpa memberi khotbah sama sekali.
( humor sufi II)
(0) Komentar
Raja Main Catur
Raja Tabistan sedang main catur dengan seorang lelaki bernama Davamand. Tak lama kemudian, Davamand menjalankan buah caturnya dan berteriak. ''Skak,'' serunya. Raja pun dikalahkan.

Raja Tabistan sangat marah pada Davamand. Ia melempari satu demi satu buah catur di depannya ke kepala Davamand. ''Makan tuh skakmu,'' katanya berang.

Davamand tetap tenang meski kepalanya tertimpuk buah catur. ''Terimakasih yang mulia,'' katanya menyahut.

Rupanya raja tak puas atas kekalahannya. Dia menantang Davamand sekali lagi. Karena tak berdaya, Davamand patuh. Tubuhnya bergetar saat mulai memindahkan buah caturnya. Satu-demi satu buah caturnya memakan buah catur raja. Ia kembali menang.

Namun sebelum sempat meneriakkan skak, ia lari terbirit-birit dan bersembunyi di bawah tujuh lapis permadani.
''Hei, apa yang kau lakukan. Ada apa ini,'' seru raja.
''Skak, skak, dan skak, yang mulia raja Tabistan.'' Read More...

Biar Menjadi Rahasia

Al Hajjaj, panglima Dinasti Umayah, yang terkenal bertangan besi, suatu hari duduk terpisah dari pasukannya. Kebetulan lewat seorang dusun setempat, maka dipanggil dan ditanyanya orang itu. ''Pak, bagaimana pendapatmu tentang Jenderal Al Hajjaj?

''Pendapatku,'' kata si orang dusun itu, ''Al Hajjaj itu benar-benar orang zalim yang sangat kejam.''
''Kalau demikian,'' tukas Al Hajjaj, ''Mengapa tidak kau laporkan saja dia kepada khalifah Abdul Malik.''

''Lapor kepada si laknat itu?'' sergah si orang dusun itu .''Abdul Malik lebih kejam dari Al Hajjaj.''

Ketika pasukan berdatangan menghadap Al Hajjaj, panglima ini pun berkata ''Kalian bawa orang dusun ini.''

Orang dusun itu pun bertanya kepada prajurit yang membawanya. ''Siapa orang itu?'' Ketika dijawab bahwa orang yang dari tadi berbincang dengannya itu adalah Al Hajjaj, buru-buru si orang dusun itu berlari menghampiri jenderal yang sangat ditakuti lawan dan kawan itu. ''Tuan, biarlah pembicaraan kita tadi menjadi rahasia di antara kita saja. Jangan sampai ada yang mengetahuinya.''

Bagaimanapun kerasnya Al Hajjaj, mendengar perkataan orang dusun itu, tak urung tertawa juga dan menyuruh anak buahnya melepaskannya. Canda Nabvi dan tawa Sufi KH Mustofa Bisri ( )
(0) Komentar
Shaikh Mukhtar dan Perampok
Syaikh Mukhtar adalah pemimpin tarekat Qadiriyya di Afrika Utara. Dia tinggal di sebuah pusat zikir (zawiya) di lereng gunung. Satu hari ia memindahkan zawiyanya ke tengah hutan.

Tiga orang perampok yang tinggal di sekitar hutan dan mengenal liku-liku hutan itu berniat merampoknya. Mereka akan mencuri sapi milik shaikh. Mereka memulai pekerjaannya.

Setelah membawa seekor sapi milik shaikh, mereka kelaparan. Dua orang memutuskan kembali untuk meminta makanan sementara yang seorang lagi bersembunyi di hutan dengan sapi curian. Kedua temannya datang mengunjungi shaikh. Betapa terperanjatnya mereka begitu melihat shaikh sudah berdiri di muka pintu menyambut kedatangan mereka.

''Assalamualaikum, silakan masuk,'' kata shaikh. Dengan wajah penuh heran, dua perampok itu duduk menghadapi hidangan yang disiapkan shaikh. ''Silakan istirahat dulu sebelu melanjutkan perjalanan kalian,'' ujar shaikh. Pria berusia menjelang senja itu minta izin kembali ke mushallanya untuk melanjutkan zikirnya yang tertunda.

Kedua kawanan perampok itu berniat lari tanpa minta izin setelah perutnya kenyang. ''Tunggu,'' kata Shaikh. Mereka berbalik kembali dengan wajah penuh tanda tanya. Shaikh menghilang sebentar dan kembali dengan beberapa potong roti. ''Ini untuk kawan kalian yang berada di hutan. Bukankah kalian bertiga,'' kata Shaikh.

Tanpa mengucapkan terima kasih, dua orang itu berlari dengan roti pemberian shaikh. Mereka menceritakan apa yang dijumpainya kepada rekannya yang bersembunyi di hutan. Merasa ada yang janggal, mereka urung membawa lari sapi milik shaikh.

Tiga bulan kemudian, shaikh mengutus salah seorang muridnya kepada komplotan perampok bernama Alhiresh itu. Muridnya berhasil membawa Alhiresh ke hadapan shaikh. '' Bertobatlah kepada Tuhan. Hentikan kegiatan kalian. Itu tidak baik,'' kata Sidi Mukhtar. ''Tak mungkin, dari merampoklah kami hidup,'' kata Alhiresh.

''Kalau begitu, tinggallah di sini. Aku akan menjamin hidup kalian sampai akhir hayat,'' kata shaikh.

''Bagaimana mungkin, aku diampuni. Terlalu banyak orang yang aku bunuh,'' sambung Alhiresh.

''Tuhan maha pemaaf. Mohon ampun dan jangan ulangi perbuatan itu.''
Maka perampok itu kemudian tinggal bersama shaikh hingga akhir hayatnya. Mereka menjadi murid yang paling setia dan tekun berzikir. Read More...

Makanan Keimanan

Sidi Muhammad ben Ali adalah anak dari Sidi Mukhtar pemimpin tarekat Qadiriyya. Satu kali selagi ia masih muda, ia diundang makan di rumah seorang ulama terkenal. Dia datang dan melihat banyak pemimpin suku hadir di rumah ulama tersebut.

Orang-orang yang datang tahu, ulama itu sangat murah dan selalu menghidangkan makanan lezat. Ketika si ulama masuk ke dalam kamar, mereka menduga-duga makanan apa yang akan disajikan hari itu.

Betapa terperanjatnya mereka ketika melihat yang dikeluarkan cuma sup sayuran yang tak enak dimakan. Mereka melihatnya ogah-ogahan ketika ulama itu mempersilakan semua tamunya menyantap makanan.
Tapi tidak dengan Sidi Muhammad ben Ali. Anak muda itu menyantap habis makanan yang disediakan shaikh pemilik rumah. Yang lain bahkan tak mau menyentuhnya.

Usai menyediakan makanan, shaikh itu menyampaikan pesan yang membuat semua yang hadir mencucurkan air mata. Dia menceritakan rahasia di balik makanan yang tak enak itu. Kelak, Sidi Muhammad ben Ali menjadi ulama terkenal yang memimpin juga tarekat Qadiriyya.
tid/berbagai sumber ( )
(0) Komentar
Seorang Pria dan Sepotong Kuku
Seorang pria terlibat percakapan dengan sepotong kuku. ''Aku sering menduga-duga, takdir apa gerakan yang akan terjadi setelah bertahun-tahun melekat di sini,'' kata kuku.

Pria itu kemudian menyahut,'' Kamu mungkin akan terpotong oleh penjepit, terbakar bersama sepotong kayu, atau membusuk seperti kayu--ada banyak kemungkinan.''

''Oh, maaf, harusnya aku tak menanyakan pertanyaan bodoh itu. Aku tahu tak satupun dapat meramal masa depannya. Kecuali kemungkinan itu sendiri, semuanya serba tak pasti.''

Sepotong kuku itu pada akhirnya hanya bisa menunggu sampai ada orang yang lebih cerdas dan tak menakutkan datang kepadanya. Benarkah kita ingin tahu takdir kita atau bahkan yang kita alami saat ini? Read More...

Hukum Tak Pandang Bulu

Di zaman Khalifah Harun al Rasyid ada seorang pejabat bernama Nashr bin Muqbil yang mempunyai prinsip menegakkan keadilan tidak hanya terbatas bagi manusia tapi juga terhadap binatang. Maka misalnya, ada kambing masuk ke ladang orang atau kancil mencuri mentimun, binatang -binatang itu harus dikenakan hukuman.

Mendengar tentang Nashr ini, khalifah Harun al Rasyid pun memanggil pejabatnya itu untuk diklarifikasi.

''Saya ingin mendengar sendiri pendapat kamu tentang hukum,'' kata khalifah. ''Coba katakan sejujurnya kepadaku.''

''Menurut hamba, hukum tidak memandang bulu. Manusia dan binatang sama di depan hukum. Sebagaimana manusia, maka binatang yang bersalah harus dihukum.

Seandainya pun binatang itu ibu atau mbakyu saya sendiri, apabila terbukti berbuat kesalahan, niscaya akan saya hukum. Saya tidak peduli9.''
Khalifah Harun pun memerintahkan untuk memecat pejabat yang 'terlampau adil' ini. Read More...

Pelimpahan Balasan

Ketika Joha sedang berjalan-jalan seseorang tiba-tiba menempelengnya keras sekali. Joha tidak mau menerima alasan orang itu yang mengatakan bahwa dia mengira Joha adalah kawan karibnya yang lama tak jumpa.
Joha menyeretnya ke hakim.

Rupanya Joha tak tahu bahwa orang iseng yang diadukannya itu anak pembesar, kawan sang hakim. Maka dia tak menaruh curiga ketika si hakim yang kenal ketamakan Joha menyuruhnya memilih apakah dia akan membalas menempeleng atau menerima ganti rugi sepuluh dirham dari lawannya. Karenanya Joha buru-buru menjawab memilih ganti rugi.
Hakim pun bertanya sambil memberi isyarat kepada lawan Joha. ''Kamu membawa uang?''

Yang ditanya paham maksud hakim. ''Wah kebetulan saya tak membawanya. Boleh saya mengambilnya dulu?'' Hakim mempersilakan orang itu pergi.

Tingallah Joha menunggu dan menunggu. Setelah lama baru ia sadar bahwa ia menjadi korban persekongkolan hakim dan lawannya. Maka dia pun mendekati si hakim dan berpura-pura akan membisikan sesuatu ke telinga hakim. Setelah dekat, dia menampar wajah sang hakim sekeras-kerasnya. ''Kalau nanti orang itu datang, ambillah sepuluh dirhamku untuk pak hakim,'' katanya. n Canda Nabi dan Tawa Sufi (A Mustofa Bisri) ( )
(0) Komentar
Menunda Jumatan
Di Bashrah, ada seorang hakim bernama Abu Himyar yang berasal dari Syam. Suatu ketika di hari Jumat, ketika akan berangkat ke masjid, di tengah jalan dia bertemu dengan seorang dari Irak. Orang itu bertanya,''Anda mau ke mana Pak Hakim?''
''Ke mana lagi,'' jawab Abu Himyar. ''Tentu saja mau ke masjid untuk Jumatan.''

''Lho apa Anda belum tahu?'' kata orang Irak itu, ''Walikota telah menunda Jumatan kali ini!''

Mendengar kata orang Irak itu, hakim Abu Himyar pun balik pulang menuju rumah. Esoknya ketika betemu walikota, Abu Himyar ditanya,'' Kemana kamu kemarin Abu Himyar. Kok tidak kelihatan Jumatan bersama kami.''
''Lho kemarin saya sudah akan ke masjid, tapi di tengah jalan bertemu orang Irak yang mengatakan bahwa tuan walikota menunda Jumatan kali ini. Jadi saya pulang.''

Karuan walikota dan semua yang hadir tertawa. Read More...

Gantung Saja Sipir Penjara Itu

Seorang pesuruh hakim Karakus membunuh orang. Hukum yang berlaku ketika itu jika ada yang membunuh orang, maka ia harus digantung.
Syahdan, sebelum hakim Karakus memutus hukuman, beberapa orang dekat si pembunuh menghadap hakim dan mengingatkan betapa berharganya si pesuruh itu bagi sang hakim. ''Dia itu orang yang sehari-hari melayani Bapak dan lebih penting lagi, dialah satu-satunya pandai besi di negeri ini yang bisa mengerjakan pekerjaan sesuai selera Bapak.''

Hakim Karakus pun melihat ke arah pintu. Kebetulan terlihat olehnya seorang sipir penjara, maka ia berkata tegas;'' Tangkap saja si sipir penjara itu. Aku tidak memerlukannya. Gantung dia di tempat pandai besiku bekerja.''

Tahan Si Pemberi Utang
Suatu hari, seseorang mengadu kepada hakim Karakus. Ia berkata:''Mohon keadilan, tuan hakim. Saya ini punya utang kepada si fulan. Susah payah saya mengumpulkan dan menabung uang untuk membayar utang saya itu.

Namun setiap kali uang sudah cukup untuk membayar, saya kesulitan menemukannya. Sudah saya cari kemana-mana tapi tidak bertemu. Maka uang yang sedianya saya bayarkan itu pun saya gunakan untuk berbagai keperluan, hingga habis lagi. Gilanya begitu uang habis, baru si fulan itu nongol dan menagih saya.''

Mendengar pengaduan itu pun, hakim Karakus memutuskan agar si Fulan, pemilik piutang, ditahan sementara si orang yang berutang mengumpulkan uang. Ketika nanti uang sudah terkumpul dan akan membayar, orang yang berutang tak perlu mencari-cari lagi. Read More...